Selasa, 11 Juni 2013

SELF EFFICACY "TEORI BANDURA"



Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata efficacy diartikan sebagai kemujaraban atau kemanjuran. Maka secara harfiah Self Efficacy dapat diartikan sebagai kemujaraban diri. Bandura dan Wood (1989, hal. 806, dalam Mustaqim, 2008, hal. 21) menyatakan self eficacy adalah keyakinan terhadap kemampuan seseorang untuk menggerakkan motivasi, sumber-sumber kognitif, dan serangkaian tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari situasi yang dihadapi. Secara kontekstual Bandura (1994, hal. 71, dalam Mustaqim, 2008, hal. 21) memberikan definisi self efficacy sebagai berikut : self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai kemampuan yang dimilikinya untuk menghasilkan tingkatan performa yang telah terencana, dimana kemampuan tersebut dilatih, digerakkan oleh kejadian-kejadian yang berpengaruh dalam hidup seseorang. Definisi self efficacy terus berkembang. Bandura (1997, hal. 3. dalam Mustaqim, 2011, hal. 21) mengartikan self efficacy sebagai berikut : Self efficacy merupakan keyakinan akan kemampuan individu untuk dapat mengorganisasi dan melaksanakan serangkaian tindakan yang dianggap perlu untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.
Menurut Alwisol (2004, hal. 344) efikasi adalah persepsi mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Efikasi diri berhubungan dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan tindakan yang diharapkan. Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri. Perubahan tingkah laku dalam, sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarious experience), persuasi sosial (social persuation), dan pembangkitan emosi (emotional/physiological states).
1.      Pengalaman performansi
Pengalaman performansi adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedang kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya :
a.       Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.
b.      Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain.
c.       Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.
d.  Kegagalan dalam suasana emosional atau stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.
e.  Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.
f.       Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak memengaruhi efikasi.
2.      Pengalaman vikarius
Diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figur yang diamati berbeda dengan diri si pengamat, pengaruh vikarius tidak besar. Sebaliknya, ketika mengamati kegagalan figur yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.
3.      Persuasi sosial
Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat memengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.
4.      Keadaan emosi
Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stress, dapat mengurangi efikasi diri. Namun, bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri.
Efikasi diri sebagai prediktor tingkah laku, menurut Bandura (Alwisol, 2004, hal. 347), sumber pengontrol tingkah laku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkah laku, dan pribadi. Efikasi diri merupakan variabel pribadi yang penting, yang kalau digabung dengan tujuan-tujuan spesifik dan pemahaman mengenai prestasi, akan menjadi penentu tingkah laku mendatang yang penting. Setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda, tergantung kepada :
1.      Kemampuan yang dituntut oleh situasi yang berbeda itu.
2.      Kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi.
3.      Keadaan fisiologis dan emosional : kelelahan, kecemasan, apatis, murung.
Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif, akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku.
Kombinasi Efikasi dengan Lingkungan sebagai Prediktor Tingkah laku
Efikasi
Lingkungan
Prediksi hasil tingkah laku
Tinggi
Responsif
Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
Rendah
Tidak responsif
Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit.
Tinggi
Tidak responsif
Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan.
Rendah
Responsif
Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu.

Perkembangan  self efficacy, dalam tiap fase perkembangan dibutuhkan kompetensi dari individu untuk berhasil melalui tiap fase perkembangan tersebut. Meskipun, tahap perkembangan yang dilalui individu tidaklah sama. Namun, keyakinan akan kemampuan diri secara konsisten akan memberikan pengaruh dalam tiap tahap perkembangan. Teori sosial kognitif memberikan analisis mengenai perubahan perkembangan self efficacy sepanjang rentang hidup manusia. Bandura (1997, hal. 164-211, dalam Mustaqim, 2011, hal. 29) membedakan fase-fase perkembangan self efficacy menjadi beberapa tahapan :
1.      Masa awal perkembangan. Pada awal perkembangannya, manusia dilahirkan tanpa merasakan sesuatu mengenai diri (self). Bayi menjelajah pengalaman seperti melihat  dirinya menghasilkan dampak dengan tindakan yang mereka lakukan, menyediakan dasar awal untuk mengembangkan rasa efficacy. Tangisan menghadirkan orang tua, menggoyangkan bel, menghasilkan bunyi, dan menendang dapat menggoyangkan tempat tidurnya. Dengan mengamati secara berulang-ulang bahwa kejadian di lingkungannya terlihat dengan tindakan, tetapi tidak dalam ketidakhadirannya, bayi belajar mengenai tindakan menghasilkan dampak. Bayi yang memiliki pengalaman sukses dalam mengontrol kejadian di lingkungan membuatnya lebih memberi perhatian terhadap perilakunya dan lebih kompeten dalam mempelajari respon efficacy, dari pada bayi yang tidak memerdulikan bagaimana mereka berperilaku. Perkembangan efficacy personal membutuhkan lebih dari sekedar menyadari tindakan menghasilkan dampak. Tapi tindakan tersebut harus dianggap sebagai bagian dari diri. Diri menjadi berbeda dari orang lain melalui pengalaman yang berbeda. Sejalan dengan bayi yang mulai menjadi anak-anak, mereka yang berada di sekitarnya memerhatikan dan memerlakukannya sebagai orang yang berbeda. Berdasarkan pertumbuhan seseorang dan pengalaman sosial, mereka membentuk representasi simbolik dari diri mereka sebagai diri yang berbeda.
2.    Sumber-sumber kerluarga terhadap self efficacy. Anak kecil harus mendapatkan pengetahuan diri (self-knowledge) mengenai kemampuan dalam area fungsi yang lebih luas. Mereka harus membangun, menilai, dan melakukan tes terhadap kemampuan fisik, kemampuan sosial, keahlian bahasa, dan keahlian kognitif dalam memahami dan mengelola banyak situasi yang mereka hadapi setiap hari. Pengembangan bahasa mendorong anak-anak memahami pengertian simbolik untuk merefleksikan pengalaman dan apa yang orang lain ceritakan kepada mereka, mengenai kemampuannya, dan juga memperluas pengetahuan diri mengenai apa yang bisa dan tidak bisa mereka lakukan. Awal pengalaman efficacy berpusat pada keluarga. Keluarga menjadi tempat awal seorang anak mengetahui perbedaan antara individu baik dari segi usia, perbedaan jenis kelamin, dan modelling.
3.  Memperluas self efficacy melalui pengaruh teman sebaya. Pengalaman pengujian efficacy anak-anak berubah secara substansial sejalan perpindahan mereka menuju komunitas yang lebih besar. Dalam hubungan dengan teman sebaya, mereka memperluas pengetahuan diri mengenai kemampuannya. Teman sebaya menyediakan fungsi efficacy yang penting. Mereka yang paling berpengalaman dan berkompeten menjadi model efficacy dalam berpikir dan berperilaku.
4.  Sekolah sebagai perantara dalam menumbuhkan self efficacy, selama periode penting dalam pembentukan kehidupan anak, sekolah mempunyai fungsi utama untuk menumbuhkan self efficacy kognitif, serta menguji hal tersebut dalam situasi sosial. Di sini pengetahuan dan keahlian berpikir mereka dites, dievaluasi, dan dibandingkan secara sosial. Ketika sang anak menguasai keahlian kognitif, mereka mengembangkan rasa efficacy intelektual.
5.      Pertumbuhan self efficacy melalui pengalaman transisional remaja, setiap periode perkembangan membawa serta tantangan baru untuk coping efficacy, sebagai remaja yang mendekati tuntutan dewasa, mereka harus belajar untuk memikul tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam setiap dimensi kehidupan. Hal ini memerlukan penguasaan benyak keahlian dan cara untuk berintegrasi dalam masyarakat dewasa. Belajar bagaimana menghadapi perubahan pubertas, menjalin hubungan secara emosional, dan persoalan seksual menjadi masalah yang sangat penting. Tugas untuk memilih perkerjaan apa yang akan dikejar juga tampak dalam periode ini. Remaja memperluas dan memperkuat rasa efficacy mereka dengan belajar bagaimana untuk sukses dalam berhadapan dengan masalah yang belum mereka hadapi dengan baik.
6.   Self efficacy dalam masa dewasa. Masa dewasa awal merupakan periode ketika seseorang harus belajar untuk menangani banyak tuntutan baru yang muncul dari hubungan persahabatan, hubungan pernikahan, kedudukan sebagai orang tua, dan karir pekerjaan. Seperti dalam tugas penguasaan yang lebih dulu, sebuah bentuk rasa self efficacy berperan penting terhadap pencapaian kemampuan dan pencapaian kesuksesan lebih lanjut. Mereka yang memasuki kedewasaan dengan sedikit dibekali keahlian dan terganggu oleh ketidakyakinan diri menemukan banyak aspek dalam hidupnya penuh stress dan kemurungan. Memulai karir pekerjaan yang produktif memberikan tantangan transisional dalam masa dewasa awal. Terdapat banyak cara keyakinan self efficacy menyumbang terhadap pengembangan karir dan kesuksesan dalam menguasai suatu keahlian. Pada fase awal self efficacy menentukan seberapa baik mereka mengembangkan dasar kognisi, manajemen diri, dan keahlian interpersonal. Keahlian psikososial menyumbang dorongan lebih kepada kesuksesan dalam karir daripada dalam keahlian keterampilan yang bersifat teknis.
7.   Menilai kembali self efficacy dalam usia lanjut, isu self efficacy dalam usia lebih tua berpusat pada reappraisal dan misappraisal mengenai kemampuan mereka.
Bandura (1997, hal. 42, dalam Mustaqim 2008, hal. 37)  menyebutkan bahwa ada tiga dimensi self efficacy, yaitu magnitude, generality, dan strength.
1.         Magnitude
Dimensi magnitude ini berkaitan dengan derajat kesulitan tugas. Apabila tugas-tugas yang dibebankan pada individu disusun menurut tingkat kesulitannya, maka perbedaan self efficacy secara individual mungkin terbatas pada tugas-tugas yang sederhana, menengah atau tinggi. Individu akan melakukan tindakan yang dirasakan mampu untuk dilaksanakannya dan akan tugas-tugas yang diperkirakan di luar batas kemampuan yang dimilikinya.
2.         Generality
Dimensi generality ini berhubungan dengan keyakinan seseorang terhadap kemampuan diri dapat berbeda dalam hal generalisasi. Maksudnya seseorang mungkin menilai keyakinan dirinya untuk aktivitas-aktivitas tertentu saja.
3.         Strength
Dimensi strength ini berkaitan dengan tingkat kekuatan atau kemantapan seseorang terhadap keyakinannya. Tingkat self efficacy yang lebih rendah mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang memperlemahnya. Sedangkan, orang yang memiliki self efficacy yang kuat akan tekun dalam meningkatkan usahanya meskipun dijumpai pengalaman yang memperlemahnya. 
Berdasarkan beberapa teori dan penjelasan self efficacy di atas, maka dapat disimpulkan bahwa inti dari self efficacy adalah keyakinan atas kemampuan diri. Kemudian, perkembangan  self efficacy, dalam tiap fase perkembangan dibutuhkan kompetensi dari individu untuk berhasil melalui tiap fase perkembangan tersebut. Meskipun, tahap perkembangan yang dilalui individu tidaklah sama.

Sumber referensi :
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang : Universitas Muhammadiyah Malang.
Melki. 2010. Kepribadian. Tersedia di : http://aldorian0507.files.wordpress.com/2010/04/kepribadian.doc.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar